Basa Basi Kehidupan


u\Jum'at pagi nemenin suami re-make aquascape nya sambi nge-teh nih, Alhamdulillah. Ditemenin kucing-kucing manja yang lagi aktif-aktinya bund hihi dilengkapi sama irama lagu wali dari spotify (bukan sponsor yak). Alhamdulillaah. Dengan berbagai kenikmatan ituu, Aku masih aja membayangkan hal yang gak adaa, sambil bilaang "kalau ditambah sama pisang goreng anget enak yaa kayanyaa mantaap". 

Begitulah manusia, dengan sifat rakus nya tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang ada. Seringkali kita fokus dengan hal yang tidak kita miliki dibanding dengan apa yang ada dan kita miliki. Sikap itulah yang membuat kita memilih menjadi manusia yang bersyukut atau kufur. Kalau bahasa anak sekarang mah jadi "insecure". Got it?

Oke mari mengulik sedikit judul tulisan ku di atas tentang basa-basi kehidupan. 

Sebagai seseorang yang telah menjawab pertanyaan "kapan nikah?" maka pertanyaan selanjutnya yang akan masyarakat lontarkan adalah "kapan punya anak?" atau mungkin bertanya dengan kalimat "udah isi belum?" dan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang tidak akan pernah beres. 

"Udah isi belum?"

Awal menikah Aku sudah sangat terbiasa dengan pertanyaan itu, setiap kami safar ke suatu tempat, silaturrahmi, bertemu dengan seseorang pasti yang ditanyakan hal tersebut. Satu bulan dua bulaan sampai sekarang lima bulan berlalu pernikahan pertanyaan itu masih hangat ditanyakan oleh orang-orang sekitar. Awalnyaa pertanyaan itu tidak begitu berpengaruh buat Aku, tapi hari kian hari Aku juga kaget, pertanyaan itu ternyata sangat berpengaruh untuk Aku terutama ke psikis Aku loh huhu.

Berfkir keras, apa yang salah, apa yang miss nih sampai Aku terusik sama pertanyaan itu. you know seberapa pengaruh? sampai Aku rasanya males untuk ketemu sama oranglain, belum lagi ketika kenyataannya temen temen yang waktu nikah nyaa berdekatan dengan Aku bahkan yang berbeda beberapa bulan setelah Aku telah memberikan kabar bahwa istrinya hamil. Akhirnya air mata akhir-akhir ini bisa jatuh dengan sangat mudah nya. Ya, dengan menyadari hal itu saja. Keadaan dan perasaan ini cukup mengganggu Aku. Karena efeknyaa jadi ke segala hal. hahaha. Lebay ya? Tapi ini the real kondisi yang sedang Aku hadapi. 

Terlepas dari kondisi keimanan nya sedang tidak baik, hal itu ternyata memang bisa sangat menyedihkan untuk seseorang yaa. Itu sih yang Aku dapetin. Waktu ngobrol dan diskusi sama suami, beliau menyampaikan bahwa sebenarnya pertnyaan yang orang-orang lontarkan itu hanya sebatas basa-basi biasaa. Ketika orang ingin memulai orbrolan, atau memperpanjang pembahasan percakapan, di Indonesia pertanyaan-pertanyaan tentang hal seperti itu menjadi hal yang biasaa, Padalah bisa jadi orang-orang itu sungguh tidak peduli dengan keadaan kitaa. Bagaimana harapan dan keinginan kita tentang itu, prtjuangan tentang itu, prinsip dan pandangan tentang itu. Yang mereka tanyakan adalah sebatas basa-basi biasa.

Contoh "Neng, gimana udah isi?" serangan pertanyaan yang Aku dapatkan 5 bulan terakhir ini. Pertanyaan itu sebenarnya hanya sebatas basa-basi obrolan ketika mereka tau bahwa Aku sudah menikah. Mereka tidak begitu peduli dengan prinsip kami dalam memiliki anak, bagaimana keinginan kami memiliki anak, bagaimana perasaan kami tentang kabar teman-teman yang sudah Allah titipkan janin si dalam rahimnya. Sama hal nya sama orang-orang yang kita tanyai "Kapan Nikah?" kita tidak tau yaa seberapa pengaruh pertanyaan sederhana kita sama orang itu. 

Buat temen-temen yang mungkin belum merasakan pengaruhnya pertanyaan sejenis itu terdengar biasa saja. Basa-basi itu terdengar biasa sajaa, tapi kita tidak pernah tau bagaimana akibatnya kepada orang yang kita tanyai. huhuhu. Pun hal hal sejenisnya yang kita harus ketahui bersama bahwa itu adalah hal-hal pribadi seseorang. Tentang kuliah kapan beres, apa pekerjaan daan pertanyann-pertanyaan sejenis lainnnya.


Darisini Aku juga jadi lebih belajar sih untuk lebih hati hati lagi sama ucapan kitaa. Benar yah yang dibilang bahwa "Lidah lebih tajam dari pada pedang". Kita ga bisa mengatur perasaan oranglain, ga bisa ngatur apa yang oranglain ingin ungkapkan dan tanyakan kepada kita. Yang bisa kita lakukan adalah lebih mengatur perasaan kita, respon kita terhadap apa yang masuk dari luar. Pun bagaimana kita mengungkapkan pertanyaan kita kepada orang - orang. Mengatur agar basa-basi yang disampaikan tidak menyinggung perasaan seseorang. 

Pun iya, kembali lagi ke bagaimana kita mengatur sikap kita terhadap respon ituu. 

Huaa, Semangat!!

;

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com